80 Years of Youth Pledge Commemoration

•October 28, 2008 • 1 Comment

INVITATION – 80 Years of Youth Pledge

Dear Indonesian,

Youth Discussion Forum & Movie Screening

“Kita Punya Bendera”

emailer_KPB.jpg

Youth Pledge

Kami Putra dan Putri Indonesia,

Mengaku Bertumpah darah satu, Tanah Air Indonesia

Mengaku Berbangsa satu, Bangsa Indonesia

Menjunjung Bahasa persatuan, Bahasa Indonesia

To mark Youth Pledge Day that falls on 28th October, PPI Singapura invites the Indonesian community in Singapore to come and commemorate 80 years of Youth Pledge with the agenda of Panel Discussion and Movie Screening of “Kita Punya Bendera”

Full information are available on PPI Singapura’s website.

Here are the event’s details:

Date : Saturday, 1st November 2008

Time : 1500 – onwards

Panels : Asst. Prof. Yohannes Eko Riyanto PhD (Department of Economics NUS) & Steven Purba (Director and writer of “Kita Punya Bendera”)

Seats are limited, thus all attendees must complete RSVP form here.

Thank you,

“80 Tahun Sumpah Pemuda” Ad-hoc committee

PPI Singapura

Please do come and support this event, lets show to the world how strong our spirit to believe in our “unity in diversity” of Indonesia

Beijing Olympic 2008: Tribute To The Athlete

•October 28, 2008 • 1 Comment

This article are made as a tribute and appreciation from me personally to all Indonesian athlete who have give his/her best to deliver triumph to Indonesia at the Beijing Olympic Games 2008

1. Eko Yuli Irawan.

The wonder boy from Indonesia seems a bit unlucky in his quest of targeting Gold in this Olympic after his sensational achievement as the best lifter in World Junior Championship in Praha. Indonesian future in weightlifting will still lies on his hand. Hope it will be better next time for him.

2. Triyatno

Achieving another bronze medal which continues medal tradition from weightlifting  in Olympic Games since Atlanta 2000.  At the Beijing Olympic he won the bronze medal in the 62 kg category, lifting a total of 298 kg.

3. Maria Kristin Yulianti

Yes, you got it right! This is the most sensational achievement from the young lady. while there are a lot of criticism  to our female badminton player after Susi Susanti-Mia Audina era, Maria proof this wrong. Without seed status, she went through to semifinal. Even tough she lose to Zhang Ning (later became the champions again) amazingly she show her best skill and confidence by defeating Lu Lan, seed no 3 from China on Bronze Medal match.

4. Nova Widianto/ Lilyana Natsir

Being the 1st seed on Mixed Double make this pair being the favorite to win gold medal on this year Olympic. Unfortunately after defeating their compatriot Flandy/ Vita on semifinal, they was not performing well in final decisive match against Korean pair. Fatigue factor perhaps?

5. Markis Kido/ Hendra Setiawan

You name it! Markis/ Hendra as no 1 seeded in Mens Double, again showing to the world that Indonesia are still the best in Mens Double, with 3 all time Olympic gold medal in badminton after Ricky/ Rexy and Tony/ Chandra. Again, they are hero for their country, Indonesia once again able to maintain its Gold Medal tradition in Olympic, since Barcelona 92.

Gold Medal Celebration

Gold Medal Celebration

Start to write again..

•October 28, 2008 • Leave a Comment

Hello all,

I have decide to give a shot again to write on my blog, this time I will fill this with English as I’m trying to practise it..

On the first time, I will write mainly on the side of my life, on sports especially football and badminton, and last but not least, for my beloved country, Indonesia.

Your input and suggestion will be more than important for me =)

Thankz

Thomas Uber Cup – Ketika Senayan Menangis dan Tersenyum

•May 17, 2008 • Leave a Comment

Rasanya sudah cukup lama sejak Senayan menangis. Ketika tahun lalu, penampilan timnas di Piala Asia yang dengan heroiknya berhasil mengalahkan Bahrain 2-1 di match pertama grup, harus ditutup dengan 2 kekalahan yang juga heroik dari Arab Saudi dan Korea untuk menutup perjuangan tidak hanyak para pemain timnas, tapi lebih lagi adalah dukungan penuh masyarakat Indonesia di Gelora Bung Karno waktu itu.

Suporter dan pemain adalah 2 hal yang tak dapat dipisahkan dalam olahraga. Hal ini lagi2 dibuktikan secara jelas dengan perhelatan Piala Thomas dan Uber di Istora Senayan Jakarta pekan ini. Sampai tulisan ini dibuat, perjuangan Tim Uber Indonesia masih akan berlanjut di final melawan China. Sementara itu, hasil yang pahit sudah harus dirasakan oleh Tim Thomas kemarin.

Ya, Tim Thomas harus menyerah secara menyakitkan 0-3 dari tim kuat Korea. Sony menyerah 3 set dari Park Sung Hwan, Markis/ Hendra menyerah juga 3 set dari Lee Young Dae, dan ketika harapan terakhir Indonesia berada di tangan Taufik Hidayat, dia juga gagal dengan kalah 2 set langsung dari Lee Hyun Il.

Saya ga pengen mengulas terlalu detail tentang pertandingan semalam. Yang menarik untuk diamati adalah:

1. Posisi Tim Thomas dengan Uber Indonesia yang berkebalikan. Ketika PBSI mematok target final kepada tim Thomas, beban mental ke pemain cukup berat, yang akhirnya mengandaskan mereka di semifinal. Sementara target hanya semifinal kepada tim uber membuat mereka mampu melenggang ke final. What i want to say is, there is always something beyond our expectation..

2. Ketika para pemain sudah bermain di level tertinggi seperti Thomas dan Uber Cup ini, mental lah yang berbicara. Dari segi skill dan teknik tiap pemain ga akan beda jauh. Harus kita akui, pemain kita belum mempunyai mental juara yang cukup seperti China. Kita harus mampu juga untuk menjadikan dukungan penuh dari suporter (teriakan 7500 suporter di Istora) sebagai penambah semangat, bukannya menjadi bumerang karena hal itu menjadi tekanan yang akhirnya menjadikan mereka tidak lepas dalam bermain.

3. Senayan benar2 menangis waktu itu. Dimulai dari ekspresi menyerah para pemain seperti Sony, Markis/Hendra dan bahkan Taufik, dibarengi dengan ekspresi sedih Sutiyoso (Ketua PBSI), Adhyaksa Dault (Menegpora) dan tentunya seluruh penonton yang berada di Senayan. Yang saya lihat, ekspektasi begitu besar dari pihak PBSI, ditambah kerinduan publik bulutangkis Indonesia akan gelar Thomas Cup, ternyata tidak dibarengi dengan semangat dan mental baja untuk bermain habis2an dari pemain.
4. Senayan kembali tersenyum di malam keesokan harinya. Tim Uber dengan penuh perjuangan meladeni keperkasaan Tim Uber China, yang akhirnya memenangkan pertandingan final dan kembali mempertahankan Piala Uber untuk ke 6 kalinya berturut2, kita tahu dari awal sebelum bertanding, hanya keajaiban dari Senayan lah yang bisa membuat Tim Uber kita juara. Meskipun keajaiban itu tidak datang, setidaknya Senayan telah memberikan segalanya kepada mereka.

Best in the world badminton atmosphere

Best in the world badminton atmosphere

Saya rindu dengan atmosfer Senayan. The home of Badminton, begitu Gillian Clark menjuluki Istora Senayan. Meskipun dukugan penuh dari suporter belum mampu menjadikan Piala Thomas kita raih kembali, namun saya yakin saat saat kemenangan itu akan datang nanti. Bagi saya sendiri,apapun hasil yang bisa dilihat disana, menang atau kalah, momentum ini sudah bisa menyadarkan saya, bahwa memang tahun ini, ketika 100 tahun kebangkitan nasional diperingati, inilah waktu kita untuk bangkit..

Viva bulutangkis Indonesia !!!

Ada yang salah dengan Barcelona !

•May 1, 2008 • 2 Comments

Setelah lama ga corat coret di blog jadul saya ini, panggilan buat kembali nulis muncul, masih tentang Barcelona, apalagi setelah di minggu ini, 2 kegagalan besar dialami FC Barcelona secara beruntun.

Gagal di La-Liga dan Champions League !

Kegagalan pertama (kedua tepatnya, setelah kalah dari Getafe di semifinal Copa del Rey beberapa waktu lalu), melawan Deportivo La Coruna, salah satu tim yang mampu menjinakkan Barca di Camp Nou musim ini, kembali terjadi ketika melawat ke Riazor minggu lalu. Opini pribadi, bahkan sebelum pertandingan ini digelar, saya udah memprediksi bahwa meskipun Barca masih mempunyai peluang secara matematis untuk meraih gelar juara, Rijkaard pasti mengambil jalan aman, dengan menyimpan skuad terbaiknya dan melepas pertandingan ini – hal yang benar2 terjadi, dan saya maklumi kekalahan ini.

Kegagalan kedua? Dibayang-bayangi kegagalan di La-Liga, Barca harus kembali fokus pada pertandingan UCL di midweek melawan Manchester United (lagi lagi di kandang lawan) yang sedikit banyak akan menambah beban di pundak para pemain ketika tampil nanti. Saya ga perlu repot2 cerita gimana jalan pertandingan 90 menit yang mendebarkan di Old Trafford, namun yang pasti, jawaban terhadap pertanyaan saya 2 tahun lalu, Ada apa dengan Barcelona? semakin terjawab, apa saja yang salah dari Barca karena hingga sekarang masalah 2 tahun lalu bukannya teratasi, bahkan bertambah lagi masalah2 lain.

Sebagai suporter fanatik Barca, saya selalu berusaha objektif dalam berpendapat tentang klub ini. Oleh karena itu, kepada teman2 pendukung Barca, sebelum membaca tulisan ini, mari sejenak tinggalkan kefanatikan dan perluas pandangan terhadap klub kesayangan kita:

Whats wrong with FC Barcelona?

Dulu ketika pertama kali mendengar slogan klub ini, dalam bahasa Spanyol disebut, Mes Que un Club yang berarti Lebih dari sekedar klub. Oleh para pendirinya, hingga sekarang, FC Barcelona memang bukan sekedar klub. Klub sepakbola ini telah menjadi simbol warga Catalonia dalam perjuangannya menjadi negara independen diluar Kerajaan Spanyol. Saya ga akan membahas lebih jauh tentang ini, bakal panjang kalo ngomong soal politik.

Kedua, adanya tradisi Jersey Barca tanpa sponsor utama selama lebih dari 100 tahun, yang akhirnya 2 tahun lalu dihentikan – namun dengan sesuatu yang lebih prestise, logo UNICEF terpasang, justru dengan Barca menjadi sponsornya, dengan memberikan donasi jutaan dollar pertahun – Beban manajemen Barca untuk selalu menjunjung prinsip tersebut makin berat.

Bercermin pada kesuksesan diawal kepemimpinan Rijkaard – 2 trophy La-Liga dan 1 gelar Champions- dengan mengandalkan pakem permainan possesive football – permainan yang berprinsip untuk memenangkan pertandingan, kuasailah sebanyak mungkin bola, alirkan secara sabar dari belakang, tengah, depan, maka kesempatan memasukkan bola tersebut ke gawang lawan akan semakin besar – tampaknya semakin sulit untuk ditinggalkan.

Saya ga bilang pakem ini salah, namun yang ingin saya tekankan adalah adanya dinamisme dalam sepakbola, permainan harus selalu berubah dan berkembang.  Paling bagus adalah bila sebuah klub, dengan stok para pemain yang berkualitas, mampu menampilkan strategi apapun yang diperlukan dalam memenangkan pertandingan. Yang saya maksud adalah tidak perlu Barca menjadi Barca yang sekarang, tidak perlu menjadi Chelsea masa Mourinho (defense first, attack later), tapi jadilah sebuah klub yang lengkap, yang mau berkembang, ke arah yang lebih baik.

Memang tugas berat bagi seluruh elemen di klub, tapi saya yakin jika satu persatu elemen tersebut mau belajar dari pengalaman, melihat kejayaan Barca kembali, bukan hal yang mustahil. Manajemen perlu menunjukkan ketegasan sekaligus kebijaksanaan dalam setiap keputusan. Jangan ada lagi kasus2 Ronaldinho dan Deco, kasus kritik dari Wakil Presiden sendiri, yang justru menambah buruk suasana di ruang ganti. Bagi pelatih, jadilah figur teladan yang mampu dipercaya oleh manajemen, dan dihormati para pemain melalui taktik dan strategi bermain yang dibuat. Kerjasama dan tanggung jawab dari pemain adalah hal yang tak kalah penting, karena dari penampilan mereka lah, akan tercermin seluruh kerja dari semua elemen dalam klub tersebut.

Untuk FC Barcelona, jadikan kegagalan2 ini sebagai pelecut semangat, semoga musim depan, masalah2 internal telah teratasi, dan Barca kembali mampu menampilkan yang terbaik di setiap pertandingan.

Visca El-Barca !!!

Fenomena Futsal Brand Global

•February 15, 2008 • 3 Comments


Sepakbola outdoor, yang sering disebut dengan sepakbola, adalah olahraga terpopuler di kolong jagat. Hampir di setiap pelosok dunia orang mengenal sepakbola, yang di situs purbakala Yunani disebut sebagai sphaira atau ollis di zaman Romawi.

Sejalan dengan perkembangan zaman, sepakbola tak melulu dimainkan di lapangan terbuka. Orang mulai melihat sepakbola dimainkan di lapangan tertutup (indoor). Rintisan itu dilakukan pada tahun 1930 saat Piala Dunia digelar di Uruguay. Olahraga baru itu dinamai futebol de salao (bahasa Portugis) atau futbol sala (bahasa Spanyol) yang maknanya sama, yakni sepakbola ruangan. Dari kedua bahasa itu muncullah singkatan yang lebih mendunia: futsal!

Fenomena futsal luar biasa. Baru-baru ini ESPN-Star Sports menggelar event yang diklaim sebagai turnamen dengan hadiah terbesar di dunia. Hampir setengah miliar rupiah diberikan kepada Brasil, yang akhirnya menjadi tim terbaik dengan memukul Argentina 4-0 di final.

“Bermain futsal bisa meningkatkan skill bermain bola,” ungkap David Beckham, Ronaldinho, dan Robinho yang lantas diamini legenda hidup Pele. Di futsal, pemain menyentuh bola 210% lebih sering dibanding sepakbola. Bahkan seorang pefutsal memiliki ball possession setiap 29,5 detik. Di Italia, jumlah pefutsal lebih banyak dibanding pesepakbola.

Futsal juga adalah global brand. Penciuman taipan-taipan bisnis olahraga Asia mengarah ke sana. Karena itu tak jadi soal mereka keluarkan dana miliaran rupiah untuk menyulap Stadium Negara – yang sebenarnya sudah tak layak itu – untuk menjadi tuan rumah event level dunia.

Penciuman yang tajam tak hanya milik taipan bisnis olahraga Asia. Pemerintah Malaysia pun melihat futsal sebagai peluang setelah sepakbola outdoor mereka tak kepalang berprestasi internasional. Asal tahu pembaca, di Malaysia sepakbola masuk dalam prioritas pertama pengembangan olahraga.

”Prestasi sepakbola kami tak kunjung bagus. Namun, olahraga ini adalah olahraga rakyat dan memiliki peran besar sebagai alat pemersatu bangsa. Karena itu kami pun tetap menempatkan sepakbola sebagai prioritas dalam rencana strategis pengembangan olahraga Malaysia,” ungkap Datuk Zolkples Embong, Ketua Komite Olahraga Malaysia (MSN).

Jadilah sepakbola mendapatkan porsi dana besar dari negara dalam Ninth Malaysia Plan 2006-2010 bersama cabang ’kelas satu’ lainnya seperti bulutangkis, hoki, balap sepeda, taekwondo, menembak, panahan, senam, layar, angkat besi, dan renang. Cabang kelas satu adalah prioritas Malaysia mendapatkan medali di Olimpiade.

”Futsal adalah fenomena menarik. Saya sedang menelitinya di Malaysia. Olahraga ini sedang booming dan menjadi bagian dari gaya hidup,” ujar Profesor Dr. Mhd. Saleh Aman, sahabat saya yang juga tokoh Sports Center di Universiti Malaya. ”Saya yakin di Indonesia pun sama,” kata Pak Saleh sembari ngobrol di mobil usai menjemput anaknya dari sekolah dasar di kawasan Damansara.

Beda Perlakuan

Ups, tertutup mulut saya mendengar pernyataan spontan Pak Saleh. Bagaimana tidak? Setahu saya tim nasional futsal Indonesia berangkat atas biaya sendiri. Mereka curhat bagaimana futsal justru dipandang sebelah mata oleh PSSI. Saat saya konfirmasi ke Yeriko Umbas, wakil Badan Futsal Nasional yang datang juga di Kuala Lumpur, perhatian itu masih ala kadarnya.

Inilah bedanya cara pandang orang Indonesia dan Malaysia terhadap brand global bernama futsal. Di Indonesia, komunitas futsal yang terbentuk belum dianggap sebagai peluang bisnis. Padahal, secara alamiah, gerakan sport for all dilakukan dengan sendirinya oleh masyarakat penggemar olahraga. Mereka tak perlu menunggu willing dari pemerintah yang masih sekadar bangga punya Undang-undang Sistem Keolahragaan Nasional Nomor 3/2005.

Di Malaysia, mereka melihat futsal sebagai peluang berprestasi ataupun bisnis. ”Olahraga ini akan meningkatkan gerakan masyarakat berolahraga,” tutur Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Datuk Sri Azalina Othman Said. ”Jika terus menerus dimainkan masyarakat, juara Asia bukan tak mungkin akan kami raih,” tegas Pak Saleh.

Di Thailand futsal dimainkan di level anak-anak usia dini dan berlapis. Jadi, saya tak heran jika akhirnya Thailand berhasil menjinakkan juara Asia Iran 2-1. Pemain Thailand sepostur dengan pemain Indonesia, tapi tendangannya kencang dan keras bak rudal Exocet yang pernah ditakuti Inggris pada perang Malvinas melawan Argentina.

Masyarakat yang berolahraga adalah sumber bibit atlet andal. Itu benar sekali. Paling tidak dalam buku Sport in Asia and Africa: A Comparative Handbook, Eric A. Wagner dkk. membenarkan bahwa prestasi olahraga akan muncul jika masyarakatnya aktif berolahraga. Satu kata kunci lagi menurut Wagner: prestasi itu bukanlah produk instan, melainkan hasil sebuah proses!

Nah, masyarakat Indonesia sudah melakukan proses alamiah dengan memainkan futsal. PSSI mestinya bersyukur sebab effort mereka tak sebesar jika harus ’memaksa’ masyarakat menggemari futsal. Apakah gerakan mereka dibiarkan begitu saja lantas menguap dan tak berbekas? Ataukah justru PSSI intens menggarap futsal yang memang termasuk lahan kering tapi lebih menjanjikan prestasi ini?

-taken from bolanews.com

OlymPPIc Update

•February 13, 2008 • 1 Comment

Setelah lama ga update blog, kali ini saya ingin menyampaikan sedikit informasi tentang turnamen olahraga antar pelajar dan mahasiswa Indonesia di Singapura yang dinamai OlymPPIc 08.

Babak kualifikasi OlymPPIc 08 akan digelar di SIS (Sekolah Indonesia Singapura) pada tanggal 16-17 Februari nanti, sedangkan final akan digelar tanggal 23 Februari di NUS Sport Center.

Cabang yang dipertandingkan adalah Futsal, Bola Voli, Bola Basket dan Badminton. Jumlah peserta yang mendaftar berjumlah hampir 300 peserta, melebihi target sebelumnya 250 peserta.

Oleh karena itu pastikan anda hadir dan menyaksikan langsung OlymPPIc 08 nanti, dengan datang ke SIS dan NUS pada tanggal tersebut. Karena kita semua lah yang akan menentukan kesuksesan OlymPPIc 08 !!!

informasi lebih lanjut silakan kunjungi website olymppic.ppisingapura.org

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.